Showing posts with label jantung. Show all posts
October 01, 2015
Makanan-makanan Ini Baik Untuk Jantung
Unknown
Thursday, October 01, 2015
jantung
,
Makanan
,
penyakit jantung
,
pola makan
,
sehat
No comments
:
Berbagai macam penyakit yang timbul biasanya
itu dipengaruhi dengan pola makanan dikonsumsi serta gaya hidup. Begitu juga
penyakit jantung, meski faktor keturunan jadi salah satu risiko. Makanan yang
kita konsumsi sehari-hari berkontribusi meningkatkan penyakit jantung.
Oleh karena itu, demi mencegah penyakit jantung datang,
pemilihan makanan sehat jantung sehat harus jadi prioritas.
"Konsumsi makanan sehat jantung harus dijadikan gaya
hidup bagi seluruh masyarakat modern di tengah banyaknya makanan cepat saji
atau junkfood, yang kaya kolesterol jahat," seperti diungkapkan Ketua
Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, Anwar
Santoso, SpJP(K).
Selain dengan makanan, merawat fungsi dan kesehatan
jantung harus dikombinasikan dengan olahraga secara aktif. Jangan lupa juga
untuk terus sarapan pagi dan makan malam, istirahat cukup, dan berhenti merokok
demi menjaga kesehatan jantung.
Berikut beberapa makanan yang baik untuk jantung:
1. Makanan yang mengandung asam folat seperti sari jeruk,
brokoli, kacang merah, dan bayam.
2. Makanan yang banyak mengandung vitamin B6 dan vitamin
E seperti pisang, daging ayam tanpa lemak, alpukat, beras merah, gandum,
kacang-kacangan, dan minyak sayur.
3. Makanan yang banyak mengandung beta karoten, lycopene
dan kaya serat karena mampu mengurangi kadar kolesterol dan mengurangi risiko
penyakit jantung koroner, seperti wortel, tomat, dan sayuran hijau.
4. Makanan yang banyak mengandung flavonoid yang dapat
diperoleh dari buah anggur, apel, bawang dan teh.
5. Makanan yang banyak mengandung asam lemak omega 3 yang
baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah seperti ikan tuna, sarden,
makarel, atau lemusu.
April 29, 2015
Ingin Jantung Lebih Sehat, Sering Bersyukur
Sering kita menganggap remeh dengan ucapan sebuah rasa syukur, setelah apa yang kita miliki, walaupun itu sangatlah kecil. Padahal rasa syukur itu sangatlah banyak manfaatnya.
Apalagi orang disekitar kita, salah satunya orangtua yang selalu mewanti-wanti guna mengucapkan berterima kasih dan bersyukur atas apa yang diterima. Saran ini sebaiknya tidak dianggap lalu begitu saja karena ada alasan baik dibalik itu semua.
Mereka dengan perasaan penuh syukur atau terima kasih mengalami tidur serta suasana hati yang lebih baik. Tambahan lainnya, perasaan tersebut membantu menurunkan tingkat inflamasi pada pasien gagal jantung.
Pada penelitian sebelumnya, telah ditunjukkan bahwa spiritualitas secara umum, berkaitan dengan kualitas hidup serta kesehatan fisik yang lebih baik. Dalam studi kali ini, Paul Mills, dari bagian kesehatan masyarakat dan psikiatri, University of California, San Diego beserta timnya mempersempit fokus tersebut dan mencoba menghubungkan antara perasaan bersyukur dengan jantung yang biasa diekspresikan dalam pernyataan 'a grateful heart'.
Menurut Mills, yang terafiliasi dengan Chopra Center for Wellbeing, Carlsbad, California, mereka ingin meneliti perasaan bersyukur tersebut pada populasi yang pernah mengalami masalah dengan kesehatan jantungnya.
Untuk itu, tim studi yang juga melibatkan Deepak Chopra (yang dikenal secara luas atas dukungan kesehatan alternatifnya), menarik 186 pasien dari klinik jantung California.
Kesemua pasien ini mengalami gagal jantung stadium B. Kondisi tersebut menunjukkan kalau mereka memiliki sejumlah gangguan fungsi serta pembengkakan jantung tetapi bukan dengan simtom yang lebih serius. Dikatakan para periset, tahap B ini menjadi waktu penting untuk intervensi karena kerusakan yang terjadi dapat dibalikkan.
Responden kemudian diteliti tingkat rasa bersyukur, kesejahteraan spiritual dan efikasi diri. Efikasi diri ini adalah keyakinan akan kemampuan diri untuk berhasil dalam mengelola fungi jantungnya. Pasien juga dinilai simtom depresi yang dialami serta kualitas tidur dan kelelahan. Terakhir, para periset mengecek darah partisipan untuk melihat indikator peradangan.
Dari studi tersebut, para peneliti menjumpai bahwa pasien yang lebih bersyukur dilaporkan tidur lebih baik, suasana hatinya lebih sedikit mengalami tekanan, tidak terlalu lelah, efikasi dirinya lebih tinggi dan indikator peradangan yang lebih rendah.
Nina Kupper, profesor psikolog dari Tillburg University, Belanda, mengatakan bahwa emosi positif secara umum dihubungkan dengan kesehatan yang lebih baik. Dan karenanya, "Perasaan bersyukur sebagai sebuah konsep, bisa menjadi pembuka ke emosi positif lebih dari yang dilakukan spiritualitas." Terkait dengan penekanan akan pentingnya emosi positif terhadap proses pemulihan, perasaan tersebut sangat penting dalam menjaga keseimbangan antara beban penyakit dan kapasitas seseorang saat berurusan dengan penyakitnya.
Dalam sub-study yang dilakukan, juga dijumpai bahwa pasien yang membuat jurnal rasa bersyukur terhadap perawatan mereka mengalami penurunan indikator dari inflamasi atau peradangan serta peningkatan variabilitas denyut jantung (yang merupakan ukuran lain dari penurunan risiko).
Kompas
Apalagi orang disekitar kita, salah satunya orangtua yang selalu mewanti-wanti guna mengucapkan berterima kasih dan bersyukur atas apa yang diterima. Saran ini sebaiknya tidak dianggap lalu begitu saja karena ada alasan baik dibalik itu semua.
Mereka dengan perasaan penuh syukur atau terima kasih mengalami tidur serta suasana hati yang lebih baik. Tambahan lainnya, perasaan tersebut membantu menurunkan tingkat inflamasi pada pasien gagal jantung.
Pada penelitian sebelumnya, telah ditunjukkan bahwa spiritualitas secara umum, berkaitan dengan kualitas hidup serta kesehatan fisik yang lebih baik. Dalam studi kali ini, Paul Mills, dari bagian kesehatan masyarakat dan psikiatri, University of California, San Diego beserta timnya mempersempit fokus tersebut dan mencoba menghubungkan antara perasaan bersyukur dengan jantung yang biasa diekspresikan dalam pernyataan 'a grateful heart'.
Menurut Mills, yang terafiliasi dengan Chopra Center for Wellbeing, Carlsbad, California, mereka ingin meneliti perasaan bersyukur tersebut pada populasi yang pernah mengalami masalah dengan kesehatan jantungnya.
Untuk itu, tim studi yang juga melibatkan Deepak Chopra (yang dikenal secara luas atas dukungan kesehatan alternatifnya), menarik 186 pasien dari klinik jantung California.
Kesemua pasien ini mengalami gagal jantung stadium B. Kondisi tersebut menunjukkan kalau mereka memiliki sejumlah gangguan fungsi serta pembengkakan jantung tetapi bukan dengan simtom yang lebih serius. Dikatakan para periset, tahap B ini menjadi waktu penting untuk intervensi karena kerusakan yang terjadi dapat dibalikkan.
Responden kemudian diteliti tingkat rasa bersyukur, kesejahteraan spiritual dan efikasi diri. Efikasi diri ini adalah keyakinan akan kemampuan diri untuk berhasil dalam mengelola fungi jantungnya. Pasien juga dinilai simtom depresi yang dialami serta kualitas tidur dan kelelahan. Terakhir, para periset mengecek darah partisipan untuk melihat indikator peradangan.
Dari studi tersebut, para peneliti menjumpai bahwa pasien yang lebih bersyukur dilaporkan tidur lebih baik, suasana hatinya lebih sedikit mengalami tekanan, tidak terlalu lelah, efikasi dirinya lebih tinggi dan indikator peradangan yang lebih rendah.
Nina Kupper, profesor psikolog dari Tillburg University, Belanda, mengatakan bahwa emosi positif secara umum dihubungkan dengan kesehatan yang lebih baik. Dan karenanya, "Perasaan bersyukur sebagai sebuah konsep, bisa menjadi pembuka ke emosi positif lebih dari yang dilakukan spiritualitas." Terkait dengan penekanan akan pentingnya emosi positif terhadap proses pemulihan, perasaan tersebut sangat penting dalam menjaga keseimbangan antara beban penyakit dan kapasitas seseorang saat berurusan dengan penyakitnya.
Dalam sub-study yang dilakukan, juga dijumpai bahwa pasien yang membuat jurnal rasa bersyukur terhadap perawatan mereka mengalami penurunan indikator dari inflamasi atau peradangan serta peningkatan variabilitas denyut jantung (yang merupakan ukuran lain dari penurunan risiko).
Kompas
November 11, 2014
Begini Cara Lihat Anda Bisa Olahraga Lari atau Tidak
Setiap orang harus olahraga maupun melakukan bergerak aktif untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Olahraga bisa dilakukan oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia. Namun, kemampuan seseorang untuk berolahraga berbeda-beda. Untuk menjaga kesehatan jantung, pilihlah olahraga sesuai kemampuan.
"Kalau orang mau olahraga itu musti diukur dulu, karena olahraga itu obat. Kalau kekurangan enggak ada manfaatnya dan kalau kelebihan bahaya. Setiap orang, kan tidak sama (kemampuan fisik)," ujar salah satu pendiri Yayasan Jantung Indonesia (YJI), Dede Kusmana di halaman Monumen Nasional (Monas), Minggu (9/11/2014).
YJI pun hari ini mencanangkan "Tes Kebugaran 1000 Meter" dalam rangka memperingati ulang tahun YJI ke 33. Dalam tes ini, seseorang bisa mengetahui apakah ia sebaiknya olahraga dengan lari, jogging, atau jalan kaki saja.
Caranya, cobalah lari sejauh 1000 meter atau 1 kilometer (km). Kemudian hitung waktu tempuh Anda. Jika dalam 1 km ditempuh lebih dari 9 menit, maka sebaiknya jangan melakukan olahraga lari, tetapi jalan kaki saja. Sementara itu, jika kurang dari 8 menit, Anda diperbolehkan jogging. Untuk lari, disarankan bagi Anda yang mampu menempuh kurang dari 6 menit (untuk laki-laki) dan kurang dari 6,5 menit (untuk wanita).
Di tempat yang sama, Ketua Umum YJI Syahlina Zuhal mengingatkan bahwa memang tidak semua orang kuat untuk berlari. Apalagi pada usia yang sudah tidak muda lagi. Untuk itu jangan dipaksakan karena bisa berbahaya bagi jantung.
"Kalau lebih dari 9 menit, yaitu tidak memenuhi target, berati tidak kuat, ya. Jadi tidak usah lari, jalan saja. Ini berarti jantungnya itu tidak cukup kuat untuk lari. Itu ahli jantung yang mengukurnya, yang membuat tes ini," terang Syahlina.
Tes ini pun bisa dilakukan di mana saja. Menurut Lina, bagi yang tidak kuat lari, jalan kaki minimal 30 menit sehari pun baik untuk kesehatan.
Dede menambahkan, sebelumnya tes ini sempat dibuat sejauh 2,4 kilometer. Namun, jarak itu dirasa cukup jauh untuk yang tidak biasa lari. Dede pun ingin mencanangkan "Pohon Tes 1000
Meter" si sejumah daerah. Ia ingin adanya suatu kawasan untuk olahraga yang berjajar pohon-pohon sepanjang 1000 meter.
"Jadi nanti di setiap daerah ada penentu jaraknya yaitu 1 km sehingga orang tahu larinya berapa menit," terang Dede yang juga mengagas "Tes Kebugaran 1000 Meter" ini.
Kompas
"Kalau orang mau olahraga itu musti diukur dulu, karena olahraga itu obat. Kalau kekurangan enggak ada manfaatnya dan kalau kelebihan bahaya. Setiap orang, kan tidak sama (kemampuan fisik)," ujar salah satu pendiri Yayasan Jantung Indonesia (YJI), Dede Kusmana di halaman Monumen Nasional (Monas), Minggu (9/11/2014).
YJI pun hari ini mencanangkan "Tes Kebugaran 1000 Meter" dalam rangka memperingati ulang tahun YJI ke 33. Dalam tes ini, seseorang bisa mengetahui apakah ia sebaiknya olahraga dengan lari, jogging, atau jalan kaki saja.
Caranya, cobalah lari sejauh 1000 meter atau 1 kilometer (km). Kemudian hitung waktu tempuh Anda. Jika dalam 1 km ditempuh lebih dari 9 menit, maka sebaiknya jangan melakukan olahraga lari, tetapi jalan kaki saja. Sementara itu, jika kurang dari 8 menit, Anda diperbolehkan jogging. Untuk lari, disarankan bagi Anda yang mampu menempuh kurang dari 6 menit (untuk laki-laki) dan kurang dari 6,5 menit (untuk wanita).
Di tempat yang sama, Ketua Umum YJI Syahlina Zuhal mengingatkan bahwa memang tidak semua orang kuat untuk berlari. Apalagi pada usia yang sudah tidak muda lagi. Untuk itu jangan dipaksakan karena bisa berbahaya bagi jantung.
"Kalau lebih dari 9 menit, yaitu tidak memenuhi target, berati tidak kuat, ya. Jadi tidak usah lari, jalan saja. Ini berarti jantungnya itu tidak cukup kuat untuk lari. Itu ahli jantung yang mengukurnya, yang membuat tes ini," terang Syahlina.
Tes ini pun bisa dilakukan di mana saja. Menurut Lina, bagi yang tidak kuat lari, jalan kaki minimal 30 menit sehari pun baik untuk kesehatan.
Dede menambahkan, sebelumnya tes ini sempat dibuat sejauh 2,4 kilometer. Namun, jarak itu dirasa cukup jauh untuk yang tidak biasa lari. Dede pun ingin mencanangkan "Pohon Tes 1000
Meter" si sejumah daerah. Ia ingin adanya suatu kawasan untuk olahraga yang berjajar pohon-pohon sepanjang 1000 meter.
"Jadi nanti di setiap daerah ada penentu jaraknya yaitu 1 km sehingga orang tahu larinya berapa menit," terang Dede yang juga mengagas "Tes Kebugaran 1000 Meter" ini.
Kompas
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)


