Showing posts with label menteri kesehatan. Show all posts

April 09, 2015

Makanan Sehat Itu Tidak Mahal Loh

No comments :
Untuk mendapatkan makanan yang aman dan sehat itu padahal tidak perlu mahal. Sebab, yang menentukan keamanan dan kesehatan makanan adalah higienitas dan perilaku hidup bersih, termasuk dalam memasak dan memilih makanan.

Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan 
Nila Moeloekpada puncak peringatan Hari Kesehatan Dunia, di Balai Kota Jakarta Utara, Selasa (7/4). di tingkat global, tema yang dipilih pada Hari Kesehatan Sedunia tahun ini adalah "Food Safety", sedangkan tema nasionalnya adalah "Pilih dan Konsumsi Pangan yang Aman dan Sehat".

Menkes menambahkan, makanan yang aman dan sehat dimulai dari rumah, termasuk menyiapkan bahan serta memasak dan menyajikan dengan baik dan benar. Semuanya itu tidak memerlukan biaya yang mahal. "Kata kuncinya adalah perhatikan aspek kebersihan dan higienitas," ujar Menkes.


Menurut Menkes, tema Hari Kesehatan Sedunia tentang keamanan pangan sangat terkait dengan upaya pengendalian faktor risiko penyakit bawaan pangan untuk mencegah kejadian luar biasa keracunan pangan.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan M Subuh menambahkan, pengawasan pangan untuk memastikan keamanan pangan dilakukan oleh berbagai lembaga pemerintah sejak dulu. Kementerian Pertanian berperan dalam pengawasan hasil panen. Adapun tugas pengawasan produk makanan minuman olahan dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Kementerian Kesehatan, ujar Subuh, berperan dalam melakukan promosi dan edukasi terkait keamanan dan kesehatan pangan.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia Ari Fahrial Syam mengutarakan, edukasi masyarakat seputar makanan yang sehat dan aman penting dilakukan mengingat kesadaran masyarakat dalam memilih makanan aman dan sehat masih terbatas. Selain itu, penindakan tegas perlu dilakukan terhadap mereka yang memproduksi makanan tidak aman dan tidak sehat.


Ancaman bagi kesehatan

Sebagaimana diberitakan, makanan tidak aman yang berbahaya bagi kesehatan menjadi masalah di Indonesia, terutama akibat pencemaran mikroba. Salah satu penyebabnya ialah lemahnya keterpaduan penanganan lintas instansi pemerintah, terutama dengan pemerintah daerah, dan tanggung jawab keamanan pangan tersebar di sejumlah instansi.

"Kita sudah memiliki regulasi lengkap terkait keamanan pangan. Namun, kapasitas daerah, terutama terkait penganggaran, menjadi salah satu tantangan," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Roy Sparringa, Senin, di Jakarta (Kompas, 7/4).

Roy mencontohkan, di salah satu kabupaten di Pulau Jawa, pemerintah daerah setempat hanya mengalokasikan anggaran Rp 30 juta untuk keamanan pangan. Padahal, tahun lalu, BPOM menerapkan program keamanan pangan desa di tiga kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan anggaran sekitar Rp 50 juta untuk satu desa.

Di sisi lain, penindakan terhadap industri, termasuk industri rumah tangga, yang terbukti memproduksi pangan tak aman masih minim. BPOM hanya bisa menyita produk. Adapun penarikan izin edar merupakan wewenang pemerintah daerah.

Hari Kesehatan Dunia yang diperingati setiap 7 April dan kali ini bertema "Keamanan Pangan" diharapkan menjadi momentum memperkuat kerja sama dan komitmen semua instansi pemerintah pusat dan daerah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berpandangan keamanan pangan sebagai masalah global seharusnya mendapatkan prioritas perhatian. Data global Foodborne Disease Burden Epidemiology Reference Group WHO 2010 menyebutkan, diperkirakan ada 582 juta kasus penyakit, terdiri dari 22 macam penyakit pencernaan bersumber dari makanan dan 351.000 kematian terkait penyakit itu. Salmonella typhi menyebabkan gangguan pencernaan yang menimbulkan kematian terbanyak (52.000 kematian), disusul Escherichia coli (37.000 kematian) dan norovirus (35.000 kematian).

Di Indonesia, penyakit bersumber dari makanan yang dominan di antaranya diare dan disentri. Menurut Riset Kesehatan Dasar, insiden diare di Indonesia 3,5 persen. Lima provinsi dengan insiden dan periode prevalensi tertinggi ialah Papua, Sulawesi Selatan, Aceh, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Insiden diare pada kelompok usia balita mencapai 10,2 persen.

Data BPOM menunjukkan, cemaran mikroba menjadi ancaman utama dalam pangan jajanan anak sekolah. Data pengawasan pangan jajanan anak sekolah oleh BPOM 2009-2014, angka cemaran oleh mikroba pada semua pangan yang tak memenuhi syarat di atas 50 persen.

Pada 2014, ada 23,82 persen pangan tidak memenuhi syarat dari semua sampel pangan jajanan anak sekolah yang dicurigai tak aman. Dari pangan yang tak memenuhi syarat, 74,89 persen tercemar mikroba. Sisanya tak memenuhi syarat karena memakai bahan berbahaya atau bahan tambahan pangan secara berlebih.

November 19, 2014

BBM Naik, Menkes Jamin Obat-obatan Tak Akan Naik Lebih Dari 1 Persen

No comments :
Setelah Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, mungkin banyak yang menyatakan akan‎ berimbas ke seluruh sektor, tak terkecuali sektor kesehatan. Ditakutkan bahwa dengan naiknya harga BBM, harga obat-obatan serta alat kesehatan juga akan ikut naik.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Kesehatan Prof Nila F Moeloek, SpM(K) mengatakan bahwa kenaikan harga obat memang tidak dapat dihindari. Hal ini dikarenakan bahwa pembelian obat tentunya sudah termasuk dengan ongkos angkut atau transportasi.

"Ada (imbas kenaikan BBM pada harga obat). Tetapi kami sudah menghitung karena satu paket obat dengan biaya angkutan," tutur Menkes Nila ketika ditemui usai konferensi pers the 2nd Health Research and Development Symposium Asia Pacific Region di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa 18 November 2014.

‎Meski naik, Menkes Nila menjamin kenaikan tidak akan besar. Bahkan dikatakan kenaikan harga obat tidak akan lebih dari satu persen.

"Memang naik, tetapi tidak lebih dari satu persen," tegas Menkes Nila.

Soal kenaikan pada harga alat kesehatan, Menkes Nila mengatakan bahwa faktor produsen juga memiliki pengaruh. Jika alat kesehatan yang dibeli berasal dari luar negeri, tentunya tidak akan berubah harganya karen dibeli menggunakan dolar.

Namun jika alat kesehatan diproduksi dari dalam negeri, Menkes Nila mengatakan bahwa faktor bahan baku juga dapat mempengaruhi harga.‎ "Alat kesehatan saya kira kalau import pakai dolar. Kalau buatan sini tergantung bahan bakunya‎," tutupnya.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo mengumumkan pengurangan subsidi untuk BBM di Istana Negara, Senin (17/11) malam kemarin. Harga bensin premium yang semula Rp 6.500 naik menjadi Rp 8.500. Sementara solar yang sebelumnya Rp 5.500 naik menjadi Rp 7.500.
Detik

November 05, 2014

Berhenti Merokok, Susi Pudjiastuti Dapat Apresiasi Menkes

No comments :
Keputusan yang diambil Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ingin berhenti merokok, mendapat apresiasi dari  Menteri Kesehatan Nila Moeloek. Apalagi di komplek Istana Merdeka dilarang merokok..

"Kementerian Kesehatan sangat apresiasi beliau yang sudah mulai berhenti merokok. Dan saya sudah mengirim surat untuk mengucapkan terimakasih," kata Nila di sela-sela temu media di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu 5 November 2014.

Nila menyampaikan, niat baik bos Susi Air ini bisa berdampak baik bukan hanya untuk masyarakat tapi buat dirinya sendiri.

"Sekali lagi saya sampaikan kepada kita dulu yang penting kita jangan mendidik anak kita merokok," tukasnya.

Ini Saran Menkes Nila Moeloek Supaya Tetap Sehat

No comments :
Terkadang kita menganggap remeh tingkat kondisi tubuh, sehingga malas untuk melakukan konsultasi dengan dokter, dalam hal ini, Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengimbau masyarakat untuk dapat menjaga kesehatan dan mengutamakan tindakan promotif dan preventif kesehatan.
"Pertama jaga kesehatan kita, itu dulu dilakukan. Kita harus sehat, harus produktif," kata Menkes usai melakukan ziarah dan tabur bunga kepada pahlawan kesehatan di TMPN Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa untuk memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2014.
Apalagi dengan diluncurkannya Kartu Indonesia Sehat (KIS) oleh Presiden Joko Widodo, maka Menkes berharap agar masyarakat tidak menunggu hingga sakitnya parah untuk datang ke layanan kesehatan.
"Setiap orang yang belum punya akses ke layanan kesehatan sekarang tercover (tercakup, red). Artinya mereka punya kartu, mereka bisa datang ke layanan kesehatan. Saya minta betul agar disosialisasikan agar jangan memakai kartu itu menunggu sakit dulu," ujar Nila.
Lebih lanjut, Menkes juga menganjurkan agar masyarakat terutama kaum perempuan untuk melakukan deteksi dini kesehatan.
"Jika kita agak khawatir, kita mulai dengan 'screening', deteksi dini. Jika sakit, segera diperiksakan, jangan menunggu parah," pesannya.
Menkes memimpin upacara penghormatan sebelum melakukan tabur bunga di makam dua mantan menkes yang dikuburkan di TMP Kalibata yaitu Soewardjono Suryaningrat yang merupakan Menkes periode 1978-1988 serta Sujudi sebagai Menkes periode 1993-1998.
Nila juga mengunjungi makam Hasri Ainun Habibie yang merupakan dokter mata dan istri mantan Presiden BJ Habibie.
Hari Kesehatan Nasional diperingati setiap tanggal 12 November dan untuk tahun 2014 mengambil tema "Sehat Bangsaku Sehat Negeriku".


November 01, 2014

Begini Resep Menkes Nila Moeloek Tangani Kematian Ibu

No comments :
Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia cukup tinggi setiap tahun, berbagai macam cara dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi angka tersebut. Begitu juga dilakukan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek dengan memberikan pendidikan mengenai kesehatan reproduksi kepada perempuan.
"Kita (perempuan) tentu harus mikir untuk diri kita. Kalau mau punya anak kita harus tahu bagaimana mendidik dan menjaga kesehatan anak. Kita juga harus tahu bagaimana menjaga kesehatan diri sendiri," ujar Menkes usai melakukan serah terima jabatan dengan mantan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Sabtu 1 November 2014.
Sasaran Pembangunan Milenium (MDG) menargetkan angka kematian ibu (AKI) Indonesia pada tahun 2015 sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup namun berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup, meningkat drastis dari SDKI 2007 sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup.
Capaian tersebut jauh dari target yang harus dicapai sehingga pemerintah melakukan beberapa terobosan untuk mengurangi AKI hingga ke tingkat yang diharapkan misalnya dengan menerapkan Jaminan Persalinan (Jampersal) dimana ibu dapat melahirkan secara gratis di layanan kesehatan primer.
Namun Menkes Nila Moeloek mengaku bahwa penerapan Jampersal saja tidak cukup jika tidak ditambah dengan peningkatan pendidikan kesehatan reproduksi kepada perempuan terutama usia subur.
Salah satu yang ditekankan Menkes adalah layanan keluarga berencana yang seharusnya dilakukan untuk mencegah kelahiran yang tidak direncanakan terutama bagi keluarga tidak mampu.
"Kita (perempuan) harus tahu KB. Itu tanggung jawab kita. Kalau tidak mampu (membesarkan anak), janganlah kita memberikan generasi yang lemah," ujarnya.
Diharapkan, pengetahuan menyeluruh yang dimiliki perempuan mengenai kesehatan reproduksi tersebut dapat mencegah terjadinya kematian saat melahirkan yang seringkali disebabkan karena tiga keterlambatan yaitu terlambat memeriksakan kehamilan, terlambat sampai ke tempat rujukan serta terlambat mendapat penanganan karena terbatasnya sarana dan sumber daya manusia.


October 28, 2014

Menkes Era Jokowi Akan Fokus Pencegahan Penyakit

No comments :
Nila Djuwita Moeloek yag terpilih sebagai Menteri Kesehatan saat diumumkan Presiden Jokowi, di Istana Merdeka, pada Minggu 26 Oktober 2014, belum bisa menjelaskan program-programnya, yang jelas dia akan lebih mengedepankan promosi dan pencegahan penyakit dalam program-program kementrian kesehatan.
"Sebenarnya kesehatan itu bagaimana menjaga kesehatan. Pencegahan penyakit lebih baik, karena kuratif (pengobatan) akan memakan biaya besar," kata Nila usai diumumkan namanya.
Ia juga ingin lebih memperhatikan nasib para tenaga kesehatan. "Saya seorang tenaga kesehatan. Hukumnya wajib membela kesehatan," ungkap Nila soal fokus kerjanya di pemerintahan Jokowi-JK ini.
Nila dipilih oleh Presiden Jokowi karena dianggap sarat pengalaman. "Ia adalah senior yang sangat berpengalaman," katanya ketika memperkenalkan Nila di hadapan wartawan kemarin. 
Nila memang memiliki pengalaman yang cukup di bidang kesehatan. Guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini sekarang menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden RI untuk Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2009-2014.
Problem universal yang ingin ditanggulangi oleh program MDGs ini adalah kemiskinan absolut, belum terjangkaunya pendidikan, masih tingginya angka kematian ibu melahirkan, rendahnya kesehatan anak, kesenjangan jender, penyebaran HIV/AIDS dan penyakit menular lain, kerusakan lingkungan, serta penggalangan kemitraan global.
Nila F Moeloek yang merupakan dokter ahli tumor mata ini bersuamikan dr.Farid Anfasa Moeloek, menteri kesehatan pada Kabinet Reformasi Pembangunan di bawah kepemimpinan Presiden BJ.Habibie. Mungkin ini adalah yang pertama kalinya suami istri pernah menjabat sebagai menteri kesehatan.

Harapan Baru Bagi Menkes Era Jokowi

No comments :
Jumlah dokter di Indonesia sudah cukup banyak. Hanya saja, penyebaran para dokter ini tidak merata. Banyak dokter yang menumpuk di kota-kota besar. Sementara sejumlah daerah terpencil belum tersentuh pelayanan kesehatan yang layak karena kurangnya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang tidak memadai.
Masalah yang sudah terjadi selama bertahun-tahun itu kini menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus diatasi Menteri Kesehatan (Menkes) yang baru Nila Djuwita Moeloek.
"Bu Nila diharapkan bisa melakukan pemerataan tenaga kesehatan untuk mengisi daerah yang belum ada dokternya dan juga pemerataan fasilitas kesehatan,"ujar Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Zaenal Abidin saat dihubungi Kompas.com, Senin (27/10/2014).
Pemerataan dokter di sejumlah daerah pun harus didukung peningkatan kemampuan sumber daya manusianya. Perlu dipikirkan pula kesejahteraan para dokter yang ditugaskan di daerah terpencil. Zaenal menilai Nila memiliki komitmen dan inovasi untuk pemerataan tenaga kesehatan di Indonesia.
"Memeratakan pelayanan kesehatan tidak gampang. Anggaran juga dipikirkan. Bu Nila bisa koordinasi dengan lintas sektor terkait," kata Zaenal.
Menurut Zaenal, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu memang pantas menduduki posisi menteri kesehatan karena telah memiliki banyak pengalaman di bidang kesehatan. Sosok Nila sendiri dikenal Zaenal sebagai pribadi yang baik dan terbuka menerima masukan dari banyak pihak.
"Beliau rajin mendengar pendapat orang lain. Dia profesor, tapi tidak merasa pintar sendiri," kata Zaenal.
Nila telah resmi menjabat Menteri Kesehatan periode 2014-1019 setelah dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta, siang tadi. Nila menggantikan posisi Nafsiah Mboi yang berakhir masa jabatannya.
Nama Nila Moeloek memang tidak asing di dunia kesehatan. Terlebih, dokter spesialis mata ini pernah diproyeksikan menjadi menteri kesehatan di Kabinet Indonesia Bersatu II era Susilo Bambang Yudhoyono. Tanpa alasan yang jelas, ia batal dilantik meski sudah mengikuti proses seleksi. Akhirnya Nila dipercaya menjadi Utusan Khusus Presiden RI untuk Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2009-2014.


October 26, 2014

Mengenal Nila Moeloek Menkes Era Jokowi

No comments :

Pada pengumuman resmi kabinet kerja di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu, 26 Oktober 2014, Presiden Jokowi menunjukan Prof Dr Nila Djuwita Anfasa Moeloek SpM(K) sebagai Menteri Kesehatan (Menkes), dari 34 menteri.
Nila yang masuk kementerian Jokowi-JK, menggantikan Nafsiah Mboi pada kabinet Indonesia Bersatu II era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saat diperkenalkan Jokowi, Nila seorang yang kaya pengalaman, “Ia adalah senior yang sanga berpengalaman.”
Perempuan kelahiran Jakarta, 11 April 1949 ini ditujukan sebagai Menkes, setelah melewat proses seleksi, yang berkasnya diperiksa KPK, dan dinyatakan bersih dari korupsi.
Perjalanan karier Nila yang merupakan seorang ahli penyakit mata, di RSCM Kirana Jakarta dan menjadi Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
Dalam hal ini, Nila ternyata mengikuti jejak suaminya dr Farid Anfasa Moelok, yang merupalan Menteri Kesehatan pada Kabinet Reformasi Pembangunan di masa kepemimpinan Presiden BJ Habibie.
Selain itu, Nila yang sudah dikaruniai tiga anak, M Reiza, Puti Alifah dan Puti Annisa, juga pernah dipercayai menjadi utusan khusus Presiden RI untuk Millenium Development Goals (MDGs) periode 2009-2014.
Adapun program MDGs ini, menangani menyangkut dengan kemiskinan absolut, belum terjangkaunya pendidikan, tingginya angka kematian ibu melahirkan, rendahnya kesehatan anak, kesenjangan jender, penyakit HIV/AIDS serta penyakit penular lainnya, kerusakan lingkungan dan penggalangan kemitraan global.

Dengan kinerja serta banyaknya pengalaman yang diperoleh Nila, sehingga cukup dipercaya Jokowi untuk mengembankan tugas-tugasnya dikementerian kesehatan.