Showing posts with label menteri kesehatan. Show all posts
April 09, 2015
Makanan Sehat Itu Tidak Mahal Loh
Unknown
Thursday, April 09, 2015
aman
,
Hari Kesehatan Dunia
,
hidup bersih
,
makanan sehat
,
menteri kesehatan
,
Nila Moeloek
,
pakar
,
sehat
,
WHO
No comments
:
Untuk mendapatkan makanan yang aman dan sehat itu padahal tidak perlu mahal. Sebab, yang
menentukan keamanan dan kesehatan makanan adalah higienitas dan perilaku hidup
bersih, termasuk dalam memasak dan memilih makanan.
Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan Nila Moeloekpada puncak peringatan Hari Kesehatan Dunia, di Balai Kota Jakarta Utara, Selasa (7/4). di tingkat global, tema yang dipilih pada Hari Kesehatan Sedunia tahun ini adalah "Food Safety", sedangkan tema nasionalnya adalah "Pilih dan Konsumsi Pangan yang Aman dan Sehat".
Menkes menambahkan, makanan yang aman dan sehat dimulai dari rumah, termasuk menyiapkan bahan serta memasak dan menyajikan dengan baik dan benar. Semuanya itu tidak memerlukan biaya yang mahal. "Kata kuncinya adalah perhatikan aspek kebersihan dan higienitas," ujar Menkes.
Menurut Menkes, tema Hari Kesehatan Sedunia tentang keamanan pangan sangat terkait dengan upaya pengendalian faktor risiko penyakit bawaan pangan untuk mencegah kejadian luar biasa keracunan pangan.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan M Subuh menambahkan, pengawasan pangan untuk memastikan keamanan pangan dilakukan oleh berbagai lembaga pemerintah sejak dulu. Kementerian Pertanian berperan dalam pengawasan hasil panen. Adapun tugas pengawasan produk makanan minuman olahan dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Kementerian Kesehatan, ujar Subuh, berperan dalam melakukan promosi dan edukasi terkait keamanan dan kesehatan pangan.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia Ari Fahrial Syam mengutarakan, edukasi masyarakat seputar makanan yang sehat dan aman penting dilakukan mengingat kesadaran masyarakat dalam memilih makanan aman dan sehat masih terbatas. Selain itu, penindakan tegas perlu dilakukan terhadap mereka yang memproduksi makanan tidak aman dan tidak sehat.
Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan Nila Moeloekpada puncak peringatan Hari Kesehatan Dunia, di Balai Kota Jakarta Utara, Selasa (7/4). di tingkat global, tema yang dipilih pada Hari Kesehatan Sedunia tahun ini adalah "Food Safety", sedangkan tema nasionalnya adalah "Pilih dan Konsumsi Pangan yang Aman dan Sehat".
Menkes menambahkan, makanan yang aman dan sehat dimulai dari rumah, termasuk menyiapkan bahan serta memasak dan menyajikan dengan baik dan benar. Semuanya itu tidak memerlukan biaya yang mahal. "Kata kuncinya adalah perhatikan aspek kebersihan dan higienitas," ujar Menkes.
Menurut Menkes, tema Hari Kesehatan Sedunia tentang keamanan pangan sangat terkait dengan upaya pengendalian faktor risiko penyakit bawaan pangan untuk mencegah kejadian luar biasa keracunan pangan.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan M Subuh menambahkan, pengawasan pangan untuk memastikan keamanan pangan dilakukan oleh berbagai lembaga pemerintah sejak dulu. Kementerian Pertanian berperan dalam pengawasan hasil panen. Adapun tugas pengawasan produk makanan minuman olahan dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Kementerian Kesehatan, ujar Subuh, berperan dalam melakukan promosi dan edukasi terkait keamanan dan kesehatan pangan.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia Ari Fahrial Syam mengutarakan, edukasi masyarakat seputar makanan yang sehat dan aman penting dilakukan mengingat kesadaran masyarakat dalam memilih makanan aman dan sehat masih terbatas. Selain itu, penindakan tegas perlu dilakukan terhadap mereka yang memproduksi makanan tidak aman dan tidak sehat.
Ancaman bagi
kesehatan
Sebagaimana diberitakan, makanan tidak aman yang berbahaya bagi kesehatan menjadi masalah di Indonesia, terutama akibat pencemaran mikroba. Salah satu penyebabnya ialah lemahnya keterpaduan penanganan lintas instansi pemerintah, terutama dengan pemerintah daerah, dan tanggung jawab keamanan pangan tersebar di sejumlah instansi.
"Kita sudah memiliki regulasi lengkap terkait keamanan pangan. Namun, kapasitas daerah, terutama terkait penganggaran, menjadi salah satu tantangan," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Roy Sparringa, Senin, di Jakarta (Kompas, 7/4).
Roy mencontohkan, di salah satu kabupaten di Pulau Jawa, pemerintah daerah setempat hanya mengalokasikan anggaran Rp 30 juta untuk keamanan pangan. Padahal, tahun lalu, BPOM menerapkan program keamanan pangan desa di tiga kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan anggaran sekitar Rp 50 juta untuk satu desa.
Di sisi lain, penindakan terhadap industri, termasuk industri rumah tangga, yang terbukti memproduksi pangan tak aman masih minim. BPOM hanya bisa menyita produk. Adapun penarikan izin edar merupakan wewenang pemerintah daerah.
Hari Kesehatan Dunia yang diperingati setiap 7 April dan kali ini bertema "Keamanan Pangan" diharapkan menjadi momentum memperkuat kerja sama dan komitmen semua instansi pemerintah pusat dan daerah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berpandangan keamanan pangan sebagai masalah global seharusnya mendapatkan prioritas perhatian. Data global Foodborne Disease Burden Epidemiology Reference Group WHO 2010 menyebutkan, diperkirakan ada 582 juta kasus penyakit, terdiri dari 22 macam penyakit pencernaan bersumber dari makanan dan 351.000 kematian terkait penyakit itu. Salmonella typhi menyebabkan gangguan pencernaan yang menimbulkan kematian terbanyak (52.000 kematian), disusul Escherichia coli (37.000 kematian) dan norovirus (35.000 kematian).
Di Indonesia, penyakit bersumber dari makanan yang dominan di antaranya diare dan disentri. Menurut Riset Kesehatan Dasar, insiden diare di Indonesia 3,5 persen. Lima provinsi dengan insiden dan periode prevalensi tertinggi ialah Papua, Sulawesi Selatan, Aceh, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Insiden diare pada kelompok usia balita mencapai 10,2 persen.
Data BPOM menunjukkan, cemaran mikroba menjadi ancaman utama dalam pangan jajanan anak sekolah. Data pengawasan pangan jajanan anak sekolah oleh BPOM 2009-2014, angka cemaran oleh mikroba pada semua pangan yang tak memenuhi syarat di atas 50 persen.
Pada 2014, ada 23,82 persen pangan tidak memenuhi syarat dari semua sampel pangan jajanan anak sekolah yang dicurigai tak aman. Dari pangan yang tak memenuhi syarat, 74,89 persen tercemar mikroba. Sisanya tak memenuhi syarat karena memakai bahan berbahaya atau bahan tambahan pangan secara berlebih.
Sebagaimana diberitakan, makanan tidak aman yang berbahaya bagi kesehatan menjadi masalah di Indonesia, terutama akibat pencemaran mikroba. Salah satu penyebabnya ialah lemahnya keterpaduan penanganan lintas instansi pemerintah, terutama dengan pemerintah daerah, dan tanggung jawab keamanan pangan tersebar di sejumlah instansi.
"Kita sudah memiliki regulasi lengkap terkait keamanan pangan. Namun, kapasitas daerah, terutama terkait penganggaran, menjadi salah satu tantangan," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Roy Sparringa, Senin, di Jakarta (Kompas, 7/4).
Roy mencontohkan, di salah satu kabupaten di Pulau Jawa, pemerintah daerah setempat hanya mengalokasikan anggaran Rp 30 juta untuk keamanan pangan. Padahal, tahun lalu, BPOM menerapkan program keamanan pangan desa di tiga kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan anggaran sekitar Rp 50 juta untuk satu desa.
Di sisi lain, penindakan terhadap industri, termasuk industri rumah tangga, yang terbukti memproduksi pangan tak aman masih minim. BPOM hanya bisa menyita produk. Adapun penarikan izin edar merupakan wewenang pemerintah daerah.
Hari Kesehatan Dunia yang diperingati setiap 7 April dan kali ini bertema "Keamanan Pangan" diharapkan menjadi momentum memperkuat kerja sama dan komitmen semua instansi pemerintah pusat dan daerah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berpandangan keamanan pangan sebagai masalah global seharusnya mendapatkan prioritas perhatian. Data global Foodborne Disease Burden Epidemiology Reference Group WHO 2010 menyebutkan, diperkirakan ada 582 juta kasus penyakit, terdiri dari 22 macam penyakit pencernaan bersumber dari makanan dan 351.000 kematian terkait penyakit itu. Salmonella typhi menyebabkan gangguan pencernaan yang menimbulkan kematian terbanyak (52.000 kematian), disusul Escherichia coli (37.000 kematian) dan norovirus (35.000 kematian).
Di Indonesia, penyakit bersumber dari makanan yang dominan di antaranya diare dan disentri. Menurut Riset Kesehatan Dasar, insiden diare di Indonesia 3,5 persen. Lima provinsi dengan insiden dan periode prevalensi tertinggi ialah Papua, Sulawesi Selatan, Aceh, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Insiden diare pada kelompok usia balita mencapai 10,2 persen.
Data BPOM menunjukkan, cemaran mikroba menjadi ancaman utama dalam pangan jajanan anak sekolah. Data pengawasan pangan jajanan anak sekolah oleh BPOM 2009-2014, angka cemaran oleh mikroba pada semua pangan yang tak memenuhi syarat di atas 50 persen.
Pada 2014, ada 23,82 persen pangan tidak memenuhi syarat dari semua sampel pangan jajanan anak sekolah yang dicurigai tak aman. Dari pangan yang tak memenuhi syarat, 74,89 persen tercemar mikroba. Sisanya tak memenuhi syarat karena memakai bahan berbahaya atau bahan tambahan pangan secara berlebih.
November 19, 2014
BBM Naik, Menkes Jamin Obat-obatan Tak Akan Naik Lebih Dari 1 Persen
Unknown
Wednesday, November 19, 2014
BBM
,
kabinet kerja
,
menteri kesehatan
,
Nila Moeloek
,
obat-obatan
,
pakar
,
sehat
No comments
:
Setelah Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, mungkin banyak yang menyatakan akan berimbas ke seluruh sektor, tak terkecuali sektor kesehatan. Ditakutkan bahwa dengan naiknya harga BBM, harga obat-obatan serta alat kesehatan juga akan ikut naik.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Kesehatan Prof Nila F Moeloek, SpM(K) mengatakan bahwa kenaikan harga obat memang tidak dapat dihindari. Hal ini dikarenakan bahwa pembelian obat tentunya sudah termasuk dengan ongkos angkut atau transportasi.
"Ada (imbas kenaikan BBM pada harga obat). Tetapi kami sudah menghitung karena satu paket obat dengan biaya angkutan," tutur Menkes Nila ketika ditemui usai konferensi pers the 2nd Health Research and Development Symposium Asia Pacific Region di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa 18 November 2014.
Meski naik, Menkes Nila menjamin kenaikan tidak akan besar. Bahkan dikatakan kenaikan harga obat tidak akan lebih dari satu persen.
"Memang naik, tetapi tidak lebih dari satu persen," tegas Menkes Nila.
Soal kenaikan pada harga alat kesehatan, Menkes Nila mengatakan bahwa faktor produsen juga memiliki pengaruh. Jika alat kesehatan yang dibeli berasal dari luar negeri, tentunya tidak akan berubah harganya karen dibeli menggunakan dolar.
Namun jika alat kesehatan diproduksi dari dalam negeri, Menkes Nila mengatakan bahwa faktor bahan baku juga dapat mempengaruhi harga. "Alat kesehatan saya kira kalau import pakai dolar. Kalau buatan sini tergantung bahan bakunya," tutupnya.
Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo mengumumkan pengurangan subsidi untuk BBM di Istana Negara, Senin (17/11) malam kemarin. Harga bensin premium yang semula Rp 6.500 naik menjadi Rp 8.500. Sementara solar yang sebelumnya Rp 5.500 naik menjadi Rp 7.500.
Detik
Menanggapi hal tersebut, Menteri Kesehatan Prof Nila F Moeloek, SpM(K) mengatakan bahwa kenaikan harga obat memang tidak dapat dihindari. Hal ini dikarenakan bahwa pembelian obat tentunya sudah termasuk dengan ongkos angkut atau transportasi.
"Ada (imbas kenaikan BBM pada harga obat). Tetapi kami sudah menghitung karena satu paket obat dengan biaya angkutan," tutur Menkes Nila ketika ditemui usai konferensi pers the 2nd Health Research and Development Symposium Asia Pacific Region di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa 18 November 2014.
Meski naik, Menkes Nila menjamin kenaikan tidak akan besar. Bahkan dikatakan kenaikan harga obat tidak akan lebih dari satu persen.
"Memang naik, tetapi tidak lebih dari satu persen," tegas Menkes Nila.
Soal kenaikan pada harga alat kesehatan, Menkes Nila mengatakan bahwa faktor produsen juga memiliki pengaruh. Jika alat kesehatan yang dibeli berasal dari luar negeri, tentunya tidak akan berubah harganya karen dibeli menggunakan dolar.
Namun jika alat kesehatan diproduksi dari dalam negeri, Menkes Nila mengatakan bahwa faktor bahan baku juga dapat mempengaruhi harga. "Alat kesehatan saya kira kalau import pakai dolar. Kalau buatan sini tergantung bahan bakunya," tutupnya.
Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo mengumumkan pengurangan subsidi untuk BBM di Istana Negara, Senin (17/11) malam kemarin. Harga bensin premium yang semula Rp 6.500 naik menjadi Rp 8.500. Sementara solar yang sebelumnya Rp 5.500 naik menjadi Rp 7.500.
Detik
November 05, 2014
Berhenti Merokok, Susi Pudjiastuti Dapat Apresiasi Menkes
Unknown
Wednesday, November 05, 2014
kabinet kerja
,
Menteri Kelautan dan Perikanan
,
menteri kesehatan
,
Nila Moeloek
,
pakar
,
rokok
,
sehat
,
Susi Pudjiastuti
No comments
:
Keputusan
yang diambil Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ingin berhenti
merokok, mendapat apresiasi dari Menteri Kesehatan Nila Moeloek. Apalagi di
komplek Istana Merdeka dilarang merokok.."Kementerian Kesehatan sangat apresiasi beliau yang sudah mulai berhenti merokok. Dan saya sudah mengirim surat untuk mengucapkan terimakasih," kata Nila di sela-sela temu media di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu 5 November 2014.
Nila menyampaikan, niat baik bos Susi Air ini bisa berdampak baik bukan hanya untuk masyarakat tapi buat dirinya sendiri.
"Sekali lagi saya sampaikan kepada kita dulu yang penting kita jangan mendidik anak kita merokok," tukasnya.
Ini Saran Menkes Nila Moeloek Supaya Tetap Sehat
Unknown
Wednesday, November 05, 2014
kabinet kerja
,
menteri kesehatan
,
Nila Moeloek
,
pakar
,
sehat
No comments
:
Terkadang kita menganggap remeh tingkat kondisi tubuh, sehingga malas untuk melakukan konsultasi dengan dokter, dalam hal ini, Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengimbau masyarakat untuk dapat menjaga
kesehatan dan mengutamakan tindakan promotif dan preventif kesehatan.
"Pertama jaga kesehatan kita, itu
dulu dilakukan. Kita harus sehat, harus produktif," kata Menkes usai
melakukan ziarah dan tabur bunga kepada pahlawan kesehatan di TMPN Kalibata,
Jakarta Selatan, Selasa untuk memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2014.
Apalagi dengan diluncurkannya Kartu
Indonesia Sehat (KIS) oleh Presiden Joko Widodo, maka Menkes berharap agar
masyarakat tidak menunggu hingga sakitnya parah untuk datang ke layanan
kesehatan.
"Setiap orang yang belum punya
akses ke layanan kesehatan sekarang tercover (tercakup, red). Artinya mereka
punya kartu, mereka bisa datang ke layanan kesehatan. Saya minta betul agar
disosialisasikan agar jangan memakai kartu itu menunggu sakit dulu," ujar
Nila.
Lebih lanjut, Menkes juga menganjurkan
agar masyarakat terutama kaum perempuan untuk melakukan deteksi dini kesehatan.
"Jika kita agak khawatir, kita
mulai dengan 'screening', deteksi dini. Jika sakit, segera diperiksakan, jangan
menunggu parah," pesannya.
Menkes memimpin upacara penghormatan
sebelum melakukan tabur bunga di makam dua mantan menkes yang dikuburkan di TMP
Kalibata yaitu Soewardjono Suryaningrat yang merupakan Menkes periode 1978-1988
serta Sujudi sebagai Menkes periode 1993-1998.
Nila juga mengunjungi makam Hasri
Ainun Habibie yang merupakan dokter mata dan istri mantan Presiden BJ Habibie.
Hari Kesehatan Nasional diperingati
setiap tanggal 12 November dan untuk tahun 2014 mengambil tema "Sehat
Bangsaku Sehat Negeriku".
November 01, 2014
Begini Resep Menkes Nila Moeloek Tangani Kematian Ibu
Unknown
Saturday, November 01, 2014
angka kematian ibu
,
menteri kesehatan
,
Nila Moeloek
,
pakar
,
sehat
No comments
:
Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia cukup tinggi setiap tahun,
berbagai macam cara dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi angka tersebut. Begitu
juga dilakukan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek dengan memberikan pendidikan
mengenai kesehatan reproduksi kepada perempuan.
"Kita (perempuan) tentu harus
mikir untuk diri kita. Kalau mau punya anak kita harus tahu bagaimana mendidik
dan menjaga kesehatan anak. Kita juga harus tahu bagaimana menjaga kesehatan
diri sendiri," ujar Menkes usai melakukan serah terima jabatan dengan mantan
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta,
seperti dikutip dari Antara, Sabtu 1 November 2014.
Sasaran Pembangunan Milenium (MDG)
menargetkan angka kematian ibu (AKI) Indonesia pada tahun 2015 sebesar 102 per
100.000 kelahiran hidup namun berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia
(SDKI) tahun 2012, AKI mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup, meningkat
drastis dari SDKI 2007 sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup.
Capaian tersebut jauh dari target yang
harus dicapai sehingga pemerintah melakukan beberapa terobosan untuk mengurangi
AKI hingga ke tingkat yang diharapkan misalnya dengan menerapkan Jaminan
Persalinan (Jampersal) dimana ibu dapat melahirkan secara gratis di layanan
kesehatan primer.
Namun Menkes Nila Moeloek mengaku
bahwa penerapan Jampersal saja tidak cukup jika tidak ditambah dengan
peningkatan pendidikan kesehatan reproduksi kepada perempuan terutama usia
subur.
Salah satu yang ditekankan Menkes
adalah layanan keluarga berencana yang seharusnya dilakukan untuk mencegah
kelahiran yang tidak direncanakan terutama bagi keluarga tidak mampu.
"Kita (perempuan) harus tahu KB.
Itu tanggung jawab kita. Kalau tidak mampu (membesarkan anak), janganlah kita
memberikan generasi yang lemah," ujarnya.
Diharapkan, pengetahuan menyeluruh
yang dimiliki perempuan mengenai kesehatan reproduksi tersebut dapat mencegah
terjadinya kematian saat melahirkan yang seringkali disebabkan karena tiga
keterlambatan yaitu terlambat memeriksakan kehamilan, terlambat sampai ke
tempat rujukan serta terlambat mendapat penanganan karena terbatasnya sarana
dan sumber daya manusia.
October 28, 2014
Menkes Era Jokowi Akan Fokus Pencegahan Penyakit
Unknown
Tuesday, October 28, 2014
Jokowi
,
kabinet kerja
,
menteri kesehatan
,
Nila Moeloek
,
pakar
No comments
:
Nila Djuwita Moeloek yag terpilih sebagai
Menteri Kesehatan saat diumumkan Presiden Jokowi, di Istana Merdeka, pada
Minggu 26 Oktober 2014, belum bisa menjelaskan program-programnya, yang jelas
dia akan lebih mengedepankan promosi dan pencegahan penyakit dalam
program-program kementrian kesehatan.
"Sebenarnya kesehatan itu bagaimana menjaga kesehatan. Pencegahan penyakit lebih baik, karena kuratif (pengobatan) akan memakan biaya besar," kata Nila usai diumumkan namanya.
Ia juga ingin lebih memperhatikan nasib para tenaga kesehatan. "Saya seorang tenaga kesehatan. Hukumnya wajib membela kesehatan," ungkap Nila soal fokus kerjanya di pemerintahan Jokowi-JK ini.
Nila dipilih oleh Presiden Jokowi karena dianggap sarat pengalaman. "Ia adalah senior yang sangat berpengalaman," katanya ketika memperkenalkan Nila di hadapan wartawan kemarin.
Nila memang memiliki pengalaman yang cukup di bidang kesehatan. Guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini sekarang menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden RI untuk Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2009-2014.
Problem universal yang ingin ditanggulangi oleh program MDGs ini adalah kemiskinan absolut, belum terjangkaunya pendidikan, masih tingginya angka kematian ibu melahirkan, rendahnya kesehatan anak, kesenjangan jender, penyebaran HIV/AIDS dan penyakit menular lain, kerusakan lingkungan, serta penggalangan kemitraan global.
Nila F Moeloek yang merupakan dokter ahli tumor mata ini bersuamikan dr.Farid Anfasa Moeloek, menteri kesehatan pada Kabinet Reformasi Pembangunan di bawah kepemimpinan Presiden BJ.Habibie. Mungkin ini adalah yang pertama kalinya suami istri pernah menjabat sebagai menteri kesehatan.
"Sebenarnya kesehatan itu bagaimana menjaga kesehatan. Pencegahan penyakit lebih baik, karena kuratif (pengobatan) akan memakan biaya besar," kata Nila usai diumumkan namanya.
Ia juga ingin lebih memperhatikan nasib para tenaga kesehatan. "Saya seorang tenaga kesehatan. Hukumnya wajib membela kesehatan," ungkap Nila soal fokus kerjanya di pemerintahan Jokowi-JK ini.
Nila dipilih oleh Presiden Jokowi karena dianggap sarat pengalaman. "Ia adalah senior yang sangat berpengalaman," katanya ketika memperkenalkan Nila di hadapan wartawan kemarin.
Nila memang memiliki pengalaman yang cukup di bidang kesehatan. Guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini sekarang menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden RI untuk Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2009-2014.
Problem universal yang ingin ditanggulangi oleh program MDGs ini adalah kemiskinan absolut, belum terjangkaunya pendidikan, masih tingginya angka kematian ibu melahirkan, rendahnya kesehatan anak, kesenjangan jender, penyebaran HIV/AIDS dan penyakit menular lain, kerusakan lingkungan, serta penggalangan kemitraan global.
Nila F Moeloek yang merupakan dokter ahli tumor mata ini bersuamikan dr.Farid Anfasa Moeloek, menteri kesehatan pada Kabinet Reformasi Pembangunan di bawah kepemimpinan Presiden BJ.Habibie. Mungkin ini adalah yang pertama kalinya suami istri pernah menjabat sebagai menteri kesehatan.
Harapan Baru Bagi Menkes Era Jokowi
Unknown
Tuesday, October 28, 2014
Jokowi
,
kabinet kerja
,
menteri kesehatan
,
Nila Moeloek
,
pakar
No comments
:
Jumlah dokter di Indonesia sudah cukup banyak. Hanya
saja, penyebaran para dokter ini tidak merata. Banyak dokter yang menumpuk di
kota-kota besar. Sementara sejumlah daerah terpencil belum tersentuh pelayanan
kesehatan yang layak karena kurangnya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan
yang tidak memadai.
Masalah yang sudah terjadi selama bertahun-tahun itu kini menjadi salah satu
pekerjaan rumah yang harus diatasi Menteri Kesehatan (Menkes) yang baru Nila
Djuwita Moeloek.
"Bu Nila diharapkan bisa
melakukan pemerataan tenaga kesehatan untuk mengisi daerah yang belum ada
dokternya dan juga pemerataan fasilitas kesehatan,"ujar Ketua Pengurus
Besar Ikatan Dokter Indonesia Zaenal Abidin saat dihubungi Kompas.com, Senin
(27/10/2014).
Pemerataan dokter di sejumlah
daerah pun harus didukung peningkatan kemampuan sumber daya manusianya. Perlu
dipikirkan pula kesejahteraan para dokter yang ditugaskan di daerah terpencil.
Zaenal menilai Nila memiliki komitmen dan inovasi untuk pemerataan tenaga
kesehatan di Indonesia.
"Memeratakan pelayanan
kesehatan tidak gampang. Anggaran juga dipikirkan. Bu Nila bisa koordinasi
dengan lintas sektor terkait," kata Zaenal.
Menurut Zaenal, Guru Besar
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu memang pantas menduduki posisi
menteri kesehatan karena telah memiliki banyak pengalaman di bidang kesehatan.
Sosok Nila sendiri dikenal Zaenal sebagai pribadi yang baik dan terbuka
menerima masukan dari banyak pihak.
"Beliau rajin mendengar pendapat
orang lain. Dia profesor, tapi tidak merasa pintar sendiri," kata Zaenal.
Nila telah resmi menjabat Menteri
Kesehatan periode 2014-1019 setelah dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi) di
Istana Negara, Jakarta, siang tadi. Nila menggantikan posisi Nafsiah Mboi yang
berakhir masa jabatannya.
Nama Nila Moeloek memang tidak
asing di dunia kesehatan. Terlebih, dokter spesialis mata ini pernah
diproyeksikan menjadi menteri kesehatan di Kabinet Indonesia Bersatu II era
Susilo Bambang Yudhoyono. Tanpa alasan yang jelas, ia batal dilantik meski
sudah mengikuti proses seleksi. Akhirnya Nila dipercaya menjadi Utusan Khusus
Presiden RI untuk Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2009-2014.
October 26, 2014
Mengenal Nila Moeloek Menkes Era Jokowi
Unknown
Sunday, October 26, 2014
Jokowi
,
kabinet kerja
,
menteri kesehatan
,
pakar
,
sosok
No comments
:
![]() |
Pada pengumuman resmi
kabinet kerja di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu, 26 Oktober 2014, Presiden
Jokowi menunjukan Prof Dr Nila Djuwita Anfasa Moeloek SpM(K) sebagai Menteri Kesehatan
(Menkes), dari 34 menteri.
Nila yang masuk
kementerian Jokowi-JK, menggantikan Nafsiah Mboi pada kabinet Indonesia Bersatu
II era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saat diperkenalkan Jokowi, Nila
seorang yang kaya pengalaman, “Ia adalah senior yang sanga berpengalaman.”
Perempuan kelahiran Jakarta,
11 April 1949 ini ditujukan sebagai Menkes, setelah melewat proses seleksi,
yang berkasnya diperiksa KPK, dan dinyatakan bersih dari korupsi.
Perjalanan karier
Nila yang merupakan seorang ahli penyakit mata, di RSCM Kirana Jakarta dan menjadi
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
Dalam hal ini, Nila
ternyata mengikuti jejak suaminya dr Farid Anfasa Moelok, yang merupalan
Menteri Kesehatan pada Kabinet Reformasi Pembangunan di masa kepemimpinan
Presiden BJ Habibie.
Selain itu, Nila yang
sudah dikaruniai tiga anak, M Reiza, Puti Alifah dan Puti Annisa, juga pernah
dipercayai menjadi utusan khusus Presiden RI untuk Millenium Development Goals
(MDGs) periode 2009-2014.
Adapun program MDGs
ini, menangani menyangkut dengan kemiskinan absolut, belum terjangkaunya
pendidikan, tingginya angka kematian ibu melahirkan, rendahnya kesehatan anak,
kesenjangan jender, penyakit HIV/AIDS serta penyakit penular lainnya, kerusakan
lingkungan dan penggalangan kemitraan global.
Dengan kinerja serta banyaknya
pengalaman yang diperoleh Nila, sehingga cukup dipercaya Jokowi untuk
mengembankan tugas-tugasnya dikementerian kesehatan.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)

.jpg)


.jpg)

